Kurang Sosial, Karena Media Sosial (?)
Sejak
munculnya berbagai media sosial di awal tahun 2000 memberikan berbagai dampak
dalam kehidupan manusia. Seperti telah kita ketahui, bahwa media sosial
merupakan salah satu media yang dapat mempermudah berbagai kegiatan
manusia terutama dalam bidang
komunikasi. Sebagai alat ‘mempermudah’
ini tentu para pencipta media sosial berlomba-lomba membuat media yang
benar-benar memiliki dampak positif dalam kehidupan manusia. Tidak dapat
dipungkiri, bahwa media sosial memiliki banyak manfaat bagi penggunanya. Baik
pengguna dari kalangan muda, orang tua, pembisnis, pendidik, bahkan dalam
pemerintahan, media sosial mempermudah banyak pekerjaan manusia.
Namun,
tanpa kita sadari, dari berbagai manfaat yang ditawarkan oleh media sosial,
banyak sekali perubahan-perubahan dalam lingkup sosial yang membuat suatu
lingkungan sosial menjadi kurang bersosial karena media sosial.
“Lantas, seperti apakah media sosial
dalam kehidupan manusia menjelang abad 21 ini?”
Menurut Lisa Buyer, media sosial adalah bentuk hubungan
masyarakat yang paling transparan, menarik dan interaktif pada saat ini.
Pendefinisian menurut Lisa ini, karena ia melihat di jaman yang semakin modern
manusia lebih banyak bersosialisasi menggunakan media sosial dan lebih membuka
diri di media sosial dibandingkan dengan di kehidupan ‘real’-nya.
Menurut Marjorie Clayman, media
sosial adalah alat pemasaran baru yang memungkinkan Anda untuk mengenal
pelanggan dan calon pelanggan dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.
Pendefinisian menurut Marjorie ini, karena ia melihat media sosial dari sudut
pandang pembisnis, dimana dalam dunia bisnis media sosial sangat mempengaruhi
promosi produk kepada masyarakat luas.
Dan menurut saya, media sosial merupakan suatu platform
teknologi yang memungkinkan manusia melakukan interaksi, kolaborasi, serta
pertukaran informasi dengan basis internet. Walaupun, sebenarnya definisi dari
media sosiall dapat berbeda-beda sesuai dengan dari sudut mana pengguna media
sosial memandangnya. Misalnya, bagi para pembisnis, media sosial merupakan
pasar online tempat dia mempromosikan produk yang dijualnya, dan bagi sebagian
remaja media sosial merupaka tempat untuk mencurahkan isi hati dan
memperlihatkan kehidupan dengan status sosial yang beragam.
Dari pengertian ini pun dapat dilihat bahwa media sosial
memiliki dampak positif dan negatif bagi para penggunanya.
Kali ini, penulis akan memfokuskan dampak media sosial dalam
lingkup sosial yang membuat suatu lingkungan sosial menjadi kurang
bersosial.
Media
sosial merupakan platform tekonologi berbasis internet, sehingga mengharuskan
penggunanya memiliki platform teknologi (gadget)
khusus untuk mengakses media sosial, seperti smartphone (Android), Iphone,
tablet, laptop, atapun komputer. Karena harus dikses dengat alat-alat
berteknologi tinggi membuat para pengguna media sosial lebih sering
berinteraksi dengan gadget dibandingkan dengan manusia lain secara langsung.
Hal ini yang membuat menurunkan kadar-kadar sosial dalam bersosialisasi.
Media
sosial biasanya digunakan untuk berinteraksi dengan orang yang memiliki jarak
yang jauh, sehingga tanpa sadar pengguna media sosial biasanya tidak
memperhatikan lingkungan sekitarnya ketika sedang asik menggunakan media
sosial. Hal sering disebutkan dengan pernyataan ‘media sosial mendekatkan yang jauh, mendekatkan yang dekat’.
Padahal, sejatinya orang-orang terdekatlah yang menjadi orang pertama yang akan
membantu kita dalam keadaan sulit atau diluar dugaan. Manusia sebagai makhluk
sosial tentu sangat bergantung dengan manusia lain, bukan berarti berinteraksi
dengan yang jaraknya jauh adalah suatu kesalahan, tetapi membangun hubungan
sosial yang baik dengan orang yang paling dekat dengan kita adalah suatu
kebutuhan yang sangat penting tanpa bisa dipungkiri. Membangun hubungan sosial
yang baik dengan orang-orang yang berada dekat dengan kita akan membangun
kadar-kadar sosial yang harmonis. Kadar-kadar sosial itu akan terbentuk apabila
dilakukan interaksi secara langsung. Sebagai contoh, dengan interaksi secara
langsung, kita dapat melihat pola pikir, gestur tubuh, dan perasaan yang
dialami oleh lawan bicara kita dengan mata kepala kita sendiri secara langsung,
hal ini membuat kita akan lebih ‘aware’
dan ‘care’ kepada lawan bicara kita.
Lain halnya dengan interaksi di media sosial, biasanya kita tidak mengetahui
apa yang sebenernya sedang dialami oleh lawan bicara kita, sehingga tidak
jarang membuat percakapan/interaksi yang dilakukan di media sosial hanya
interakhi yang ‘terlihatnya saja’, interaksi yang ‘dirab-raba’, interaksi yang
akan menghasilkan hasil yang tidak seusai dengan maksud awal dan kadang menjadi
kacau. Apalagi di media sosial, orang-orang merasa bisa mengata-ngatai apapun
kepada orang lain, hal ini dikarenakan orang yang mengata-ngatai orang lain
merasa dirinya terlindungi oleh platform teknologi yang tepisah oleh jarak,
sehingga orang yang dikata-katai tidak akan melakukan pembalasan secara ‘real’ terhadap dirinya.
Hal
ini yang menjadi sesuatu yang sangat berbahaya dalam adanya media sosail,
dengan media sosial orang-orang bisa mengekspresikan dirinya dalam bentuk
apapun yang tidak jarang justru mengganggu orang lain, dengan media sosial
sering terjadi keributan kecil yang menjadi sangat besar karena di media sosial
berita menyebar dengan sangat cepat ke masyarakat luar, dengan media sosial
orang dengan mudah melakukan penipuan yang selanjutnya penipuan itu berlanjut
kepada kejahat-kejahatan lain, dan dengan media sosial dapat membuat manusia
sebagai makhluk sosial menjadi makhluk anti sosial karena tidak sudah peduli
lagi dengan masyarakat di sekitarnya.
Hal-hal
yang dapat dilakukan untuk mengurangi manusia menjadi makhluk anti sosial
dengan media sosial antara lain sebagai berikut :
a. Dalam
lingkungan keluarga :
1. Membuat
jam khsusus untuk quality time dalam sehari.
Hal ini dapat dilakukan
dengan ‘q-time’ tanpa gadget dalam lingkungan. Dengan adanya hal ini setidaknya
beberapa jam dalam sehari dalam membangun suasana sosial yang hidup.
2. Orang
tua mengawasi perilaku anak dalam media sosial
Pengguna media sosial
terbesar tidak lain adalah remaja, dengan pengawasan yang tepat dan pendekatan
yang baik, orang tua dapat membantu mengarahkan anak menggunakan media sosial
sesuai dengan kebutuhan.
b. Dalam
dunia pendidikan :
1. Sekolah/kampus
tidak memperbolehkan penggunaan gadget selama jam pelajaran/mata kuliah yang
diawasi dengan baik oleh pengajar/dosen.
Hal ini setidaknya dapat membantu
mengurangi penggunaan media sosial sedikit demi sedikit di lingkungan
pembelajaran.
2. Pendidik
membuat suasana belajar yang menyenangkan setiap harinya.
Dengan suasana belajar yang
menyenangkan tentunya peserta didik tidak akan membuka gadget karena tidak mau
melewatkan moment pembelajaran yang menyenangkan, hal ini dapat membantu
mengurangi penggunaan media sosial di sekolah/kampus.
c. Dalam
lingkungan masyarakat
Dalam
lingkungan masyarakat hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi penggunaan media
sosial adalah sering diadakan kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan seluruh
anggota masyarakat suatu daerah tersebut, baik kalangan muda, kalangan tua,
ataupun anak-anak. Misalnya dengan diadakan kegiatan rutin seperti kerja bakti
bersama, lomba-lomba di hari besar, dan pertemuan rutin dengan tema tertentu
akan menumbuhkan keakraban antar anggota masyarakat. Hal ini dapat membuat masyarakat
di daerah tersebut akan lebih menikmati hubungan sosial yang terjadi langsung
dengan anggota masyarakat lain.
Beberapa contoh diatas dapat dilakukan untuk
mengurangi penggunaan media sosial dalam lingkup sosial yang membuat suatu
lingkungan sosial menjadi kurang bersosial.
Karena sejatinya media sosial lebih banyak memberi
dampak negatif apabila digunakan secara intensif dan terus menerus. Kebanyak
orang mengunakan media sosial untuk menaikan status sosial dirinya di tingkat
tertentu, sehingga sekarang ini sering kita mendengar istilah ‘panjat sosial’
dimana orang-orang mengupdate dirinya di berbagai media sosial agar status
sosialnya naik dan diikuti oleh banyak orang. Hal seperti ini apabila dicermati
dengan baik sebenarnya agak tidak berguna, karena status sosial akan naik
tetapi hanya sebatas di media sosial, dan di kehidupan nyata tidak jarang
orang-orang yang memiliki status sosial tinggi bukan siapa-siapa atau bahkan
tidak bisa menghadapi kehidupan nyata yang sesungguhnya sangat pelik. Orang-orang
yang mampu menyelami kadar-kadar sosial dengan baik di kehidupan nyata-lah yang
nantinya akan mampu bersaing dengan orang lain dan memiliki status sosial yang
sebenarnya.
Akan lebih baik, apabila para pengguna media sosial
yang terlalu berlebihan menyadari tentang pentingnya berlomba dalam menghadapi
kehidupan sebenarnya bukan dunia maya yang tidak teraba dan hanya terlihat.
Ketika mata hati telah terbuka dan dalam dirinya mau untuk melakukan perubahan,
tentu kehadiran media sosial bukan lagi membuat manusia menjadi anti sosial,
justru dapat membuat manusia menjadi makhluk sosial yang ‘supel dan sosiable’.
Komentar
Posting Komentar