Pendidikan Berkarakter dalam Pembangunan Indonesia

Dewasa ini tingkah laku dan pola pikir pemuda pemudi Indonesia sungguh beragam. Hal tersebut dilandasi berbagai hal yang sangat menarik untuk ditelusuri. Ada beberapa kalangan pemuda yang mengedepankan High Society atau eksistensi diri di lingkungannya. Ada pula kalangan pemuda yang memilih bekerja keras untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya dan membahagiakan orang tua mereka. Dan tidak sedikit kalangan pemuda yang mengedepankan rasa peduli terhadap sesama serta politik kenegaraan sehingga terbentuk banyak sekali komunitas dan gerakan kepemudaan.

Sayangnya berbagai kalangan pemuda tersebut kadang belum memiliki pemahaman yang kuat dalam dirinya, sehingga apa apa yang mereka buat dan mereka kerjakan justru menghasilkan hal negatif di ranah kemasyarakatan.

Misalnya kelangan pemuda yang mengedepankan High Society atau eksistensi diri, mereka akan membuat kelompok bergaul yang menurut mereka dapat menambah eksistensi mereka di lingkungan, dan tidak jarang mereka justru mengenyampingkan perilaku toleransi kepada orang-orang yang menurut mereka tidak sejajar atau sebanding dengan kelompok mereka.

Lalu, kalangan pemuda yang memilih bekerja keras dan membahagiakan orang tua, tidak jarang malah membuat tingkat stress yang tinggi pada diri mereka sendiri demi terwujudnya cita-cita dan keinginan mereka, sehingga mereka merasa memiliki masalah yang lebih besar dibandingkan orang-orang seusia mereka, dan hanya sedikit sekali pemuda yang berhasil melewati masalah-masalah yang mereka anggap „lebih besar‟ dari masalah orang-orang seusia mereka tersebut.

Kemudian, kalangan pemuda yang mengedepankan rasa kepedulian serta politik kenegaraan sehingga terbentuk berbagai komunitas dan gerakan pemuda, tidak sedikit justru memiliki paham yang tidak seimbang dengan permasalahan yang sebenarnya terjadi di lingkungan masyarakat, sehingga komunitas atau gerakan-gerakan kepmudaan itu justru memberikan dampak yang kurang baik di lingkungan kemasyarakatan, atau malah menjunjung suatu tokoh bahkan aliran tertentu yang justru menyimpang dari norma-norma sosial.

Terakhir, kalangan pemuda yang biasa-biasa saja, atau bisa dibilang mereka yang mengikuti arus kehidupan seperti air mengalir, menghadapi berbagai masalah yang



terjadi di masyarakat dengan seadanya justru sangat mendominasi. Sayang sekali apabila sebagian pemuda pemudi Indonesia seperti ini, apa yang akan terjadi dengan keadaan Negara Indonesia 10 tahun yang akan datang? Ketika tahun 1945 Ir. Soekarno berkata, “Berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia”, maka kata-kata tersebut tidak akan berlaku lagi di Indonesia pada abad ke-20.

Degradasi moral dan kuranganya pemahaman akan pendidikan karakter yang baik, yang membentuk kalangan-kalangan pemuda seperti yang telah dipaparkan diatas. Masalah ini menjadi topik yang penting di abad ke-20. Ketika penerus suatu bangsa tidak lagi memiliki pemahaman hidup dan karakter yang baik lalu bagaimana negaranya akan berkembang menjadi maju? Bagaimana Pembangunan Negara akan berjalan dengan baik?

Pembangunan Negara adalah proses yang dilakukan oleh seluruh warga Negara sehingga terbentuk suatu Negara yang lebih baik dari sebelumnya dalam berbagai aspek kehidupan kenegaraan, baik aspek ekonomi, politik, geopolitik, pendidikan, sosial, serta budaya.

Di Indonesia pembangunan nasional telah dilakukan sejak jaman presiden kedua kita, Presiden Soeharto. Banyak sekali pembangunan yang beliau lakukan yang kemudian dilanjutkan oleh presiden-presiden Indonesia selanjutnya hingga saat ini.

Walaupun Pembangunan Negara Indonesia terus diluncurkan namun karakter kepribadian bangsa justru semakin luntur. Hal ini sangat mengkhawatirkan dapat menyebabkan kebedaraan Negara Indonesia semakin lama semakin dipermainkan oleh bangsa asing.

Menghadapi kehidupan internasional yang semakin berkembang di era global ini, pemahaman tentang hidup dan pengukatan karakter terutama pada pemuda pemudi penerus bangsa perlu diperbaiki. Ketika budaya asing masuk ke Negara Indonesia bukan berarti dapat secara utuh membuat degradasi moral kepada pemuda pemudi Indonesia. Justru dengan masuknya budaya asing dan pemahaman global yang luas dapat membuka wawasan dan kerangka berfikir pemuda pemudi Indonesia untuk mempertahan kepribadian bangsanya dan menerapkan dalam dunia internasioal.



Oleh karena itu, diperlukan penerapan pendidikan karakter yang lebih mendalam kepada pemuda pemudi Indonesia menjelang abad ke-21 ini. Pendidikan karakter itu sendiri merupakan proses pembentukan karakter yang memberikan dampak positif terhadap perkembangan emosional, spiritualitas, dan kepribadian seseorang. Penerapan pendidikan karakter tidak hanya dilakukan di sekolah formal, tetapi dapat diselingi dalam berbagai aspek sederhana dalam kehidupan.

Dalam lingkup sekolah formal, menurut Dr. M. Ghazali Bagus Ani Putra, psi peranan sekolah dalam pembangunan manusia berkarakter moral dalam rangka membentuk pendidikan karakter adalah sebagai berikut.

1.    Menyediakan pendidikan moral agama yang berbasis penyikapan terhadap kasus/ fenomena.

2.    Menyiapkan guru, kakak kelas, sivitas akademika, alumni sebagai role model.

3.    Menyediakan perangkat nilai dan aturan yang jelas, rasional dan konsisten.

4.    Membangun sinergitas antara pihak sekolah, keluarga, masyarakat dan pemerintah.

5.    Pendidikan berkarakter moral dimasukkan dalam kegiatan intra, ekstra dan ko-kulikuler sebagai hidden curriculum.

6.    Menyajikan story telling melalui multi media dengan melibatkan peran sebagai role model karakter moral.

Apabila sekolah-sekolah di Indonesia sudah menerapkan sistem seperti ini maka lambat laun karakter pemuda pemudi Indonesia akan terbentuk. Namun, tidak hanya sekolah formal saja yang memiliki peranan penting dalam pendidikan karakter ini. Keluarga, masyarakat, bahkan diri sendiri sangat berperan penting.

Dalam kehidupan di serba modern pemuda pemudi lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget mereka atau hang out dengan orang-orang seusia-nya, hal hal sederhana lewat hobi, kebiasaan, dan internet sangat mungkin membantu merubah karakter seseorang menjadi lebih baik. Misalnya, bagi pemuda pemudi penikmat musik dan film, dapat dengan bijak menjadikan skenario film ataupun lirik sebuah lagu sebagai ladang membentuk karakter menjadi lebih baik.



Bahkan saat ini di Indonesia sudah dibentuk Indonesia Heritage Foundation yang merumuskan nilai-nilai yang patut diajarkan kepada anak-anak untuk menjadikannya pribadi berkarakter dan menamakannya “9 Pilar Karakter”, yakni cinta Tuhan dan kebenaran; bertanggung jawab, kedisiplinan, dan mandiri; mempunyai amanah; bersikap hormat dan santun; mempunyai rasa kasih sayang, kepedulian, dan mampu kerja sama; percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah; mempunyai rasa keadilan dan sikap kepemimpinan; baik dan rendah hati; mempunyai toleransi dan cinta damai.

Lembaga-lembaga seperti ini sudah selakyaknya semakin di expose agar diketahui oleh masyarakat luas dan dijadikan sebagai salah satu problem solver masalah pendidikan karakter di Indonesia.

Apabila pendidikan karakter berjalan dengan baik, tampilnya pemuda-pemudi Indonesia di kancah Internasional pun akan semakin baik, tidak lagi pemuda pemudi yang membuat kalangan-kalangan tersendiri bagi diri sendiri dan lingkungan kecilnya lagi.

Personal improvement, Social skill, serta Comprehensive problem solving pemuda pemudi Indonesia tidak lagi tentang hal-hal yang justru merugikan Negara, tetapi dapat melangsungkan Pembangunan Indonesia semakin baik dalam menghadapi Era Global yang semakin besar di tahun-tahun yang akan datang.

Untuk mewujudkan hal ini tentu perlu upaya dari semua pihak yang terkait, diperlukan figur teladan sebagai role model untuk menegakkan nilai atau aturan yang telah disepakati bersama dalam pembentukan karakter yang baik. Di sinilah peran pendidik, khususnya guru, orang tua, masyarakat dan pemerintah sebagai figur teladan agar pemuda pemudi Indonesia mampu melakukan imitasi terhadap perilaku moral, tidak lagi amoralnya. Oleh karena semua pihak dituntut untuk terlibat aktif maka perlu adanya sinergisitas diantara elemen tersebut sehingga pendidikan berkarakter dapat terus dilakukan secara berkelanjutan dalam Pembangunan Negara Indonesia.







“Tidak ada keberhasilan individu, yang ada adalah keberhasilan kolektif.”


Komentar

Postingan Populer